Aprinda Rizky Ma'rufi

" Ia adalah lagu, musik yang kuputar selalu, nada yang mendayu, dentingan piano yang membuat candu. Aku panggil ia dengan sebutan “Kamu”. "
Ikuti Aku

Sesuatu yang mungkin kau rasakan... Malam pekat tanpa haluan, berjalan nekad tak dihiraukan, sisa rasa hanya tangisan, mengerti hanya sebuah kiasan…

Berjalan tak tahu arah dan menghilang, kini ku tak tahu arti kata senang, dan tak mengerti arti rasa tenang, yang sisa hanya malam tak ada siang…

Kau tak pergi namun ku sendirian, aku takut… apakah kau mendengarkan, aku takut… apakah kau merasakan, rasakan kesendirian... jeritan… kesakitan… dan tangisan…

Kemana pergi pelangi yang sangat aku harapkan, yang dulu selalu aku bangga-banggakan, yang ku tunggu saat reda hujan…

Tak tahu arah dan tujuan, maka kemana aku harus pulang…

Untuk garis waktu yang selalu merangkak maju, Terima kasih telah meminjamkanku waktu untuk bisa bersamanya selalu, untuk bisa menjaganya dihadapanmu, walau aku tahu, aku tak bisa menjaganya seperti itu. Maafkan aku yang telah mengekangnya, hanya karena aku ingin perhatiaannya. Aku menjadikannya pusat semestaku, dan aku sebagai planet yang mengitarinya setiap waktu, hanya karena aku tak ingin ia pergi dariku. Namun aku tahu, aku tak bisa mencegahnya, membuatnya bersama, karena ia yang berhak menentukannya, kemana ia harus melangkah selanjutnya. Ia yang terbaik untukku, namun jua terburuk. Karena sampai akhir pun ia tak mengerti maksud dari tindakanku.



Demi matahari yang telah tenggelam hari ini, sungguh berat jika sudah seperti begini, berpikir negatif walau tak maksud hati, dan hati tak bisa di kompromi.
Demi bintang yang tertutup gelap awan, tak ada yang lebih sakit jika harus melakukan, dipaksa keadaan untuk melupakan, karena harus ada kekecewaan.
Lelah hari tak terasa lagi, karena terbangun melihat sesuatu yang tak diingini, sesuatu yang telah dipercayai, kini mengecewakan hati dan melukai.
Tak ada yang bisa dipegang dari alasannya, awalnya meyakinkan karena sudah mengikhlaskan, tapi semua lenyap tak bersisa, hanya karena ia melanggar kata yang ia tak sadarkan.
Hati yang sudah percaya, kini hancur tak bersisa, yang ada hanyalah kecewa, kepada setiap alasannya.
Wanita.
Tak ada yang bisa dipercaya, mereka berkata tapi hati tak seiya.
Namun hanya satu yang kupercaya, seseorang yang kalian sebut Mama, sebab ia berbohong demi kebaikan kita, bukan demi kebebasannya semata.
Aku tak mengenal wanita, yang katanya Pencipta-ku Tinggikan derajatnya, tapi kebanyakan dari mereka merendahkan dirinya, dengan egonya, hanya karena ingin ada kebebasan dalam hidupnya.
Lantas untuk apa aku menjaganya, jika ia tidak ingin dijaga, lantas untuk apa menuntunnya, jika ia menepiskan tangannya. Tak ada yang bisa dikira, apa maunya…
Lantas untuk apa kita mencoba, jika ia menyuruh untuk berhenti saja, lantas untuk apa bertahan, jika ia mengusir tanpa kata sopan. Tak ada yang bisa dikira, apa maunya…
Sungguh Maaf Wahai Sang Pencipta, Maafkan pula Wahai Sang Penerang Jiwa, bukannya aku tak percaya, hanya saja… aku belum menemukan wanita yang kalian bicarakan adanya.
Aku Rindu Sosok seperti Zulaikha, dan Fatimah Azzahra… masih ada kah wanita seperti mereka… jika ada, akan ku perjuangkan walau aku harus menunggu seribu tahun lamanya, walau harus tertusuk pedang didada, walau harus berjalan mempertaruhkan nyawa. Hanya untuk menemuinya.
Aku ingin memperjuangkannya, menjaganya. Tapi siapa ? Aku tak ingin mencari dia yang sempurna tapi mencari Siapa yang bisa membuatku percaya, yang bisa membuatku sempurna.




Aku akan mendampingimu saat kau pulang sekolah, menemanimu saat kau penuh dengan tugas rumah. Aku akan mendampingimu ketika flu membuat hidungmu merah, bersamamu juga ketika sehat membuatmu kembali berulah.



Aku akan mendampingimu ketika kau sedih dan penuh amarah, dan menenangkanmu ketika emosimu kembali pecah. Akupun akan mendampingimu ketika kau penuh bahagai dengan senyuman yang merekah.




Kemudian, Aku akan mendampingimu ketika kau sibuk dengan tugas kuliah, sampai ketika kau wisuda dengan pikiran penuh dengan falsafah. Lalu Aku akan mendampingimu ketika lamaran kerjamu ditolak dan kaupun resah, walaupun kau merasa tak berguna dan kalah.




Aku akan mendampingimu ketika pikiranmu penuh dengan masalah, sampai kau merasa tenang dan tabah, karena ku merasa pernah. Dan Aku juga akan mendampingimu ketika kau merasa menang hingga kesombonganmu parah, menasihatimu sehingga kau tidak serakah.\




Lalu, Aku akan mendampingimu ketika kita menabung untuk masa depan dengan susah payah, bersamamu berjuang untuk menggapai kebahagiaan yang Lillah. Aku akan mendampingimu saat duduk dipelaminan dan mengikat janji untuk menikah, karena itu sudah digariskan Allah dan Sunnah.




Walau kekayaanku akan melimpah, aku ingin kau merasa rendah, karena semua pemberian Sang Pengarah. Dan Aku akan mendampingimu ketika berlari di pagi yang cerah, disampingmu melintasi jalan dengan keringat dan gerah.




Aku juga akan mendampingimu ketika Sembilan bulan kita dipenuhi resah, mendampingimu ketika kau mual dan muntah, sampai ketika kita sudah menjadi ibu dan ayah, hilanglah semua resah dan gundah.

Aku akan mendampingimu menjaga anak kita dengan penuh perhatian dan tanpa lengah, mengajaknya berlari dan berkemah. Mengajarkannya pentingnya bersedekah, dan menjadi anak yang ramah.




Dan aku berjanji Aku akan mendampingimu hingga raga kita tua renta dan cepat lelah. hingga umur kita hampir berakhir sudah. Aku akan mendampingimu sampai Kita kembali menjadi tanah, aku akan melakukannya karena rasaku tak akan pernah salah, walaupun sampai saat dunia hancur dan punah.




Maka percayalah, walaupun aku tak tahu arah, dan air mataku mulai tercurah, dan tubuhku mulai lemah. Aku akan mendampingimu dan aku tak akan mengalah. Sebab kau yang terbaik dan terindah.



Diksi Puisi Sajak entahlah yang terinspirasi dari Buku Garis Waktu - Fiersa Besari